PORTALMAJALENGKA- Inilah kisah perjalanan spiritual Sunan Gunung Jati sebelum menjadi Sultan di Kesultanan Cirebon.. Dimana Sunan Gunung bertemu Nabi Khidir saat perjalanan menuju Cirebon dan ia diberi amanah untuk menjadi Wali. Portal Majalengka akan memberikan kisah keberhasilan Sunan Gunung Jati bertemu dengan Nabi Khidir dan Kesuksesan dalam memimpin kesultanan Cirebon dari Naskah Mertasinga.
SunanGunung Jati Banyak kisah tak masuk akal yang dikaitkan dengan Sunan Gunung Jati. Diantaranya adalah bahwa ia pernah mengalami perjalanan spiritual seperti Isra' Mi'raj, lalu bertemu Rasulullah SAW, bertemu Nabi Khidir, dan menerima wasiat Nabi Sulaeman. Semua itu hanya mengisyaratkan kekaguman masyarakat masa itu pada Sunan Gunung Jati.
Kisahperjumpaan sunan gunung jati dengan nabi khidir. Ada perasaan tenang dan tenteram dengan mencintai kekasih allah swt. Tetapi disebabkan bajet tidak mengizinkan, maka dibina sebuah masjid dengan 20 kubah. Kisah perjumpaan sunan gunung jati dengan nabi muhamad saw diceritakan dalam naskah mertasinga pupuh v.13 s/d v.22, kisah ini
Sepertikisah Nabi Musa AS bertemu dengan Nabi Khidir, sang Sunan pun bertemu Nabi Khidir di pinggir lautan tanpa diketahui dari arah mana datangnya sang Nabi. Disaat Sunan Kalijaga, ada di tengah samudera, matanya melihat seseorang, yang sedang berjalan tenang di atas air, yang kemudian diketahui bahwa orang tersebut adalah Nabi Khidir, lalu
kisahsunan gunung jati dan nabi khidir adalah salah satu artikel yang paling banyak dicari dan diminati oleh banyak orang. Setiap orang mempunyai alasan dan kebutuhan tersendiri mengapa mencari artikel kisah sunan gunung jati dan nabi khidir di internet. Namun sayangnya,
Dengandemikian, kini Sunan Gunung Jati resmi diangkat sebagai Wali Kutub. Nabi Khidir datang memberikan dua kabar baik sekaligus. Pertama, ia mengabarkan anugerah kewalian kepada Sunana Gunung Jati. Kedua, ia juga mengabarkan bahwa keinginan Sunan Gunung Jati untuk bertemu Nabi Muhammad Saw akan segera terwujud.
. Kisah Perjumpaan Sunan Gunung Jati Dengan Nabi Muhamad SAW diceritakan dalam Naskah Mertasinga Pupuh s/d kisah ini sebenarnya rentetan dari kisah pengembaraan Syarif Hidayatullah muda setelah beliau menemukan kitab usul kalam yang ditemukannya di Gedong Agung Istana Banisrail. Kitab tersebut dikisahkan ditulis dengan menggunakan tinta emas dan didalamnya membahas mengenai hakikat Nabi Muhammad dan menjelaskan mengenai Dzat Allah yang maha suci. Setelah membaca kitab tersebut, Syarif Hidayatullah muda begitu kuat hatinya ingin berjumpa dengan Nabi Muhamad. Waktu itu Syarif Hidayatullah berumur 12 Tahun. Penggalan Translit Naskah Mertasinga Tentang Perjumpaan SGJ Dengan Nabi Muhamad SAW Sebelum itu ayah Syarif Hidayatullah penguasa mesir dan Palestine Sultan Hud telah mangkat. Maka diputuskanlah kemudian yang menjadi penerus tahta adalah Syarif Hidayatullah karena beliau merupakan anak laki-laki pertama dari Sultan Hud dan Ratu Nyimas Larasantang Nama Larasantang diganti menjadi Sayarifah Mudaim setelah beliau menjadi Ratu. Baca Juga Keris Sangyang Naga, Pusaka Sunan Gunung Jati Kisah Wafatnya Sunan Gunung Jati Akan tetapi sebelum penobatan Syarif Hidayatullah sebagai Sultan dilaksanakan, Syarif Hidayatullah muda mengutarakan isi hatinya supaya di ijinkan mengembara mencari Nabi Muhamad SAW kepada ibunya. Alangkah terkaget-kagetnya Ibunda Syarif Hidayatullah, dalam keadaan itu kemudian Ibunda Syarif Hidayatullah berkata “Wahai anaku bukankah Nabi Muhamad telah wafat dan dikuburkan di Madinah, Anaku, bagaimana mungkin ananda bisa berjumpa dengan beliau?, sudahlah anaku, janganlah engakau pergi!” Mendapati gelagat aneh dari anaknya itu, Ratu Nyimas Larasantang merasa khawatir dan memberitahukan kepada patihnya yang bernama Patih Onka. Sang Patih kemudian membujuk Syarif Hidayatullah muda, bujuknya agar jangan mengembara, sebab Nabi Muhamad sudah wafat dan telah dikuburkan di Madinah lagipula penobatan Syarif Hidayatullah sebagai penguasa Banisrail segera dilaksanakan. Namun Syarif Hidayatullah sudah kuat hatinya, ingin mengembara mencari Nabi Muhamad, demikian katanya terhadap Sang Patih “Paman aku tidak mengangap beliau telah wafat, karena itu adalah urusan Allah yang bersifat maha pengasih. Apakah Paman pernah mendengar ada orang yang telah wafat kemudian datang menemui orang hiidup?, memang Allah itu maha kuasa. Susah atau mudahnya kita serahkan kepada Allah, begitu tambah Syarif Hidayatullah dengan keyakinan penuh” Stelah peristiwa itu, kemudian Syarif Hidayatullah muda meninggalkan Istana dan mengembara mencari Nabi Muhamd SAW. Dalam pengembaraanya itu Syrif Hidayatullah dikisahkan mengunjungi Makam Nabi Sulaiman di Pulau Majeti. Beliau juga kemudian terdampar di Jabal Kahfi, dan dalam perjalanan selanjutnya dimana Syarif Hidayatullah Muda dalam keadaan lelah setelah seratus hari seratus malam tak kunjung menemukan Nabi Muhamad SAW, Syarif Hidayatullah dibawa kedalam alam dimensi lain, beliau melihat alam nyawa dimana tempat berkumpulnya nyawa orang-orang yang telah wafat dalam perang sabil berada. Dalam alam Nyawa itu, Syarif Hidayatullah kemudian didatangi oleh Nabi Khidir, dan beliau mengabarkan kabar gembira kepada Syarif Hidayatullah, bahwa keinginannya untuk dapat bertemu Nabi Muhamad akan terlaksana, Sang Nabi Khidirpun kemudian mengangkat Syarif Hidayatullah menjadi Waliullah. Dengan menunggangi Kuda yang bernama Kuda Sembrani, Nabi Khidir kemudian membawa Syarif Hidayatullah melesat bagaikan kilat, tenggelam dalam ketidaktahuan arah, utara-barat-timur maupun selatan. Alam menjadi gelap gulita hingga akhirnya sampailah kepada suatu tempat yang terang benerang keduanya tiba di Gunung Mirah Wulung. Setelah Syarif Hidayatullah muda turun dari kudanya, kemudian Nabi Khidir meninggalkan beliu sambil berpesan, “Engkau tunggulah disini dengan sabar, nanti aka ada yang datang kepadamu, nanti akan kau lihat sendiri” Selang beberapa lama setelah masa penantian, datanglah seekor burung putih keluar dari puncak gunung mendatangi Pemuda Syarif dan kemudian membawanya naik kepuncak gunung Mirah Wulung. Syarif Hidayatullah muda dibawa ke Masjid Kumala. Tanpa diketahui kedatangannya, kemudian terlihat Rasullalah, cahayanya menyilaukan memancar menerangi alam sekelilingnya. Syarif Hidayatullah lalu menghambur untuk bersujud dihadapan Nabi, akan tetapi bahunya segera diangkat oleh Nabi, dan Sabdanya “Nanti kamu Kafir kalau menyembah sesama manusia.!, sebab sejak awalnya sujud itu hanya kepada Allah” Pemuda Syarif kemudian berkata “Hamba mohon Syafaat, baiat kepada sejatinya, semoga selamat dunia samppai akhirat”Kemudian Rasul Bersabda Alih Aksara Naskah Mertasinga Sabda/Nasihat Nabi Kepada SGJ Artinya “Hai anak muda, yang akan menjadi pengganti diriku. Ingatlah kamu selalu kepada sesama hidup. Karena hidup itu tidak berbeda, tidak bisa dibunuh karena sukmanya itu Allah. Jangan sampai nanti terlambat, hanya ada satu tak ada duanya, yaitu itulah engkau adanya. Namun lahir harus memaki Tirai, untuk meramaikan Negara, berikan petunjuk kepada hamba Allah, berhati-hatilah dalam tutur kata. Sempurnakanlah amal syariat yang utama dengan berbakti kepada ayah dan bunda, dan kunjungilah Ka’bah Allah, carilah guru yang saleh dan janganlah meninggalkan adat dunia, hanya itulah nasihatku” Maka selesai sudah baitanya Rasullallah. Syarif Hidayatullah pun kemudian bersukur karena tercapai sudah keinginanya yaitu berjumpa dengan Nabi Muhamad SAW. Setelah peristiwa itu kemudian Syarif Hidayatullah muda kembali ke Istana. Menemui Ibunya yang lama beliau tinggalkan. Akan tetapi ketika beliau berada di Istana, beliau selalu teringat akan nasihat Nabi agar supaya beliau menunaikan Haji dan mencari guru yang mulia, beliau pun kemudian berkelana kembali, sampai pada suatu hari beliau bertemu dengan 10 orang Yahudi. Kisah mengenai pertemuan itu, dikisahkan dalam artikel kami yang berjudul "Kisah Sunan Gunung Jati Dan 10 Orang Yahudi"
Home Dunia Islam Selasa, 06 Juni 2023 - 1807 WIBloading... Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah adalah satu dari sembilan wali Wali Songo yang nasabnya tersambung kepada Rasulullah SAW. Foto ilustrasi/ist A A A Sunan Gunung Jati atau Maulana Syarif Hidayatullah adalah satu dari sembilan wali Wali Songo yang menyebarkan Islam di Tanah Jawa. Beliau termasuk keluarga Alawiyyin, silsilah nasabnya tersambung kepada Rasulullah SAW. Sunan Gunung Jati disebut juga Sayyid Al-Kamil dilahirkan Tahun 1448 Masehi dari pasangan Syarif Abdullah Umdatuddin bin Ali Nurul Alam dan Nyai Rara Santang putri Prabu Siliwangi dari Kerajaan Padjajaran. Cucu Raja Pajajaran ini dikenal sebagai penyebar agama Islam di Jawa diketahui, semua Wali Songo merupakan keturunan Nabi Muhammad SAW melalui Sayyid Abdul Malik, cucu ke-7 dari Sayyid Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir. Berikut silsilah nasab Sunan Gunung Jati yang tersambung kepada Rasulullah SAW sebagaimana disebutkan dalam Kitab Auliyaus Syirqil Ba'id karya Dr Bassyar Al-Jakfari. 1. Maulana Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati2. Imam Abdullah3. Imam Ali Nurul Alam4. Imam Jamaluddin Al Husaini5. Imam Syeh Jalaluddin6. Imam Abdullah 7. Imam Abdul Malik Azmat Khan8. Imam Alwi 'Ammul Faqih9. Imam Muhammad Shahib Mirbath10. Imam Ali Khali' Qasam11. Imam Alwi12. Imam Muhammad 13. Imam Alwi14. Imam Ubaidillah 15. Imam Ahmad Al-Muhajir16. Imam Isa Ar Rumi17. Imam Muhammad An Naqib18. Imam Ali Al 'Aridhi19. Imam Ja'far As-Shadiq20. Imam Muhammad Al-Baqir 21. Imam Ali Zainal Abidin22. Sayyidina Husain23. Sayyidah Fathimah Az Zahro24. Baginda Rasulullah SAW. Nasab ini menunjukkan bahwa Alawiyyin dan Wali Songo adalah dua keluarga besar yang tidak bisa dipisahkan karena sama-sama keturunan Sayyid Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir. Baca Juga rhs sunan gunung jati syarif hidayatullah wali songo keturunan nabi muhammad saw biografi ulama Artikel Terkini More 6 menit yang lalu 22 menit yang lalu 54 menit yang lalu 1 jam yang lalu 1 jam yang lalu 1 jam yang lalu
Sunan Gunung Jati Banyak kisah tak masuk akal yang dikaitkan dengan Sunan Gunung Jati. Diantaranya adalah bahwa ia pernah mengalami perjalanan spiritual seperti Isra’ Mi’raj, lalu bertemu Rasulullah SAW, bertemu Nabi Khidir, dan menerima wasiat Nabi Sulaeman. Semua itu hanya mengisyaratkan kekaguman masyarakat masa itu pada Sunan Gunung Jati. Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah diperkirakan lahir sekitar tahun 1448 M. Ibunya adalah Nyai Rara Santang, putri dari raja Pajajaran Raden Manah Rarasa. Sedangkan ayahnya adalah Sultan Syarif Abdullah Maulana Huda, pembesar Mesir keturunan Bani Hasyim dari Palestina. Syarif Hidayatullah mendalami ilmu agama sejak berusia 14 tahun dari para ulama Mesir. Ia sempat berkelana ke berbagai negara. Menyusul berdirinya Kesultanan Bintoro Demak, dan atas restu kalangan ulama lain, ia mendirikan Kasultanan Cirebon yang juga dikenal sebagai Kasultanan Pakungwati. Dengan demikian, Sunan Gunung Jati adalah satu-satunya “wali songo” yang memimpin pemerintahan. Sunan Gunung Jati memanfaatkan pengaruhnya sebagai putra Raja Pajajaran untuk menyebarkan Islam dari pesisir Cirebon ke pedalaman Pasundan atau Priangan Dalam berdakwah, ia menganut kecenderungan Timur Tengah yang lugas. Namun ia juga mendekati rakyat dengan membangun infrastruktur berupa jalan-jalan yang menghubungkan antar wilayah. Bersama putranya, Maulana Hasanuddin, Sunan Gunung Jati juga melakukan ekspedisi ke Banten. Penguasa setempat, Pucuk Umum, menyerahkan sukarela penguasaan wilayah Banten tersebut yang kemudian menjadi cikal bakal Kesultanan Banten. Pada usia 89 tahun, Sunan Gunung Jati mundur dari jabatannya untuk hanya menekuni dakwah. Kekuasaan itu diserahkannya kepada Pangeran Pasarean. Pada tahun 1568 M, Sunan Gunung Jati wafat dalam usia 120 tahun, di Cirebon dulu Carbon. Ia dimakamkan di daerah Gunung Sembung, Gunung Jati, sekitar 15 kilometer sebelum kota Cirebon dari arah barat Terimah Kasih... Pertemuan Sunan Gunung Jati dengan Nabi Khidir as Oleh
Jakarta Sunan Gunung Jati merupakan salah satu tokoh besar di Indonesia yang menyebarkan ajaran Islam di wilayah Jawa bagian barat. Berbagai misteri kesaktian Sunan Gunung Jati menyeruak di kalangan para pengikutnya. Salah satu karomah beliau diantaranya diceritakan dalam Babad Tanah Sunda dan Babad Cirebon. Dalam buku itu diceritakan bahwa Sunan Gunung Jati pernah berjalan diatas laut saat pergi dari Mesir menuju Tanah Jawa. 6 Kuliner Ramadan Khas Madura, Cocok untuk Buka Puasa Sambut Ramadhan 2023, Persiapan hingga Fase yang Dilalui Umat Muslim Sahur tapi Belum Mandi Junub hingga Lewat Imsak, Apakah Puasanya Sah? Ada pula naskah yang menceritakan bahwa ia pernah mengalami perjalanan spiritual seperti Isra' Mi'raj, bertemu Nabi Khidir, dan menerima wasiat Nabi Sulaiman. Selain itu, ada beberapa karomah Sunan Gunung Jati selama hidupnya yang juga fenomenal, apa saja? Berikut ulasan enam peristiwa fenomenal beliau semasa hidupnya Hilangnya Istana Pakuan Kalai itu, Kerajaan Galuh Pakuan, ibu kota Kerajaan Sunda kalah usai diserang pasukan Demak bimbingan Sunan Gunung Jati 1568. Peristiwa terjadi setahun sebelum Sunan Gunung Jati wafat di usia 120 tahun. Dalam perundingan dengan para pembesar Istana Galuh Pakuan, Syarif Hidayatullah memberikan dua opsi. Pertama, para pembesar Istana Pakuan yang bersedia masuk Islam akan dijaga kedudukan dan dipersilakan tetap tinggal di keraton. Kedua, bagi yang tidak bersedia maka harus keluar dan diberikan tempat di pedalaman Banten wilayah Cibeo sekarang. Sebagian besar para pangeran dan putri-putri raja menerima opsi pertama. Sedangkan pasukan kawal istana dan panglimanya sebanyak 40 orang memilih opsi kedua. Mereka inilah cikal bakal penduduk Baduy yang hingga kini terus melestarikannya pemukimannya dengan membatasi hanya 40 kepala keluarga saja. Sementara para Pendeta Sunda Wiwitan menolak opsi pertama dan kedua. Mereka ingin tetap memeluk agama Sunda Wiwitan aliran Hindu di wilayah Pakuan tetapi tetap bermukim di dalam wilayah Istana Pakuan. Dengan karomahnya, Sunan Gunung Jati lalu memindahkan Istana Galuh Pakuan ke alam gaib sehingga para Pendeta Wiwitan tidak lagi berada di Istana tersebut. Saksikan video pilihan berikut iniRatusan ribu tiket kereta api tambahan disiapkan untuk mudik lebaran 2023Konon, saat Syarif Hidayatullah muda hendak menunaikan rukun Islam kelima ke Baitullah. Ia dibekali ibunya uang seratus dirham. Di tengah perjalanan, ia dihadang kompotan perampok dan memberikan semua uang pemberian ibunya itu. Namun para penyamun tidak puas dengan tindakan Syarif Hidayatullah, karena menyangka bahwa ia membawa uang lebih. Mereka lalu terus memaksanya. Syarif Hidayatullah malah tersenyum melihat ulah para perampok dan menyuruh mereka melihat ke sebuah pohon. “Ini ada satu lagi, sebuah pohon dari emas, bagilah di antara kawan-kawanmu”. Ajaib, ternyata pohon yang ditunjuknya berubah menjadi emas. Mereka pun akhirnya masuk Islam dan menjadi murid Syarif Hidayatullah. Keluarkan Tikus Dari Surban Untuk Serang Musuh Dalam Serat Walisanga dengan langgam durma diceritakan, salah satu karomah Sunan yakni saat peperangan antara pasukan Demak dengan para tentara Majapahit. Dalam peristiwa itu, Syarif Hidayatullah mengeluarkan surbannya dan mengibaskannya. Ajaib, ribuan bala tentara tikus muncul menyerang bala tentara Majapahit hingga lari tunggang langgang. Hilangkan Bala Tentara Pangeran Kuningan Dalam Babad Tanah Sunda dan Babad Cirebon dikisahkan bahwa suatu saat Syarif Hidayatullah bertanya kepada Pangeran Kuningan tentang cara meng-Islamkan raja-raja Pasundan. Pangeran Kuningan menjawab bahwa dirinya dapat mendatangkan bala tentara dengan cara mengumpulkan kerikil dan jamur merang yang ditetesi dengan jimat cupu tirta bala. Usai ditetesi, tetiba muncul bala tentara hingga memenuhi alun-alun Cirebon. Peristiwa ini menimbulkan kehebohan warga Cirebon sehingga Syarif Hidayatullah membacakan doa tolak bala. Tatkala usai ia berdoa, maka bala tentara Pangeran Kuningan itu seketika hilang. Tebakan Dalam Perut Putri Ong Tien Sunan Gunung Jati pernah pergi ke Cina guna menyebarkan Islam di wilayah yang bernama Nan King 1479 sambil membuka pengobatan ala tabib. Setiap yang datang berobat diajarinya berwudu dan diajak salat. Konon, banyak rakyat yang berhasil disembuhkannya sehingga namanya kian terkenal hingga Kaisar Hong Gie dari Dinasti Ming. Kaisar Hong Gie lalu mengundang Syarif ke istana untuk diuji kemampuannya dan meminta agar putrinya Lie Ong Tien seolah-olah hamil dengan meletakan baskom di perutnya. Lalu dia duduk berdampingan dengan saudarinya yang memang sedang hamil tiga bulan. Sunan Gunung Jati lalu disuruh menebak siapa yang sedang hamil. Tak ragu beliau menunjuk Ong Tien. Jelas saja Sang Kaisar tertawa terkekeh dan mencemoohnya. Sang Kaisar kemudian mengusirnya pulang ke Cirebon. Namun tiba-tiba, diketahui ternyata Ong Tien memang tengah hamil sedangkan kandungan saudarinya justru lenyap. Kaisar pun meminta maaf dan memohon agar Ong Tien dinikahi. Sang putri yang jatuh cinta lalu meminta izin untuk menyusul Sunan Gunung Jati. Kaisar pun mengizinkannya dan meminta para pengawalnya mengantar putrinya ke Jawa. Sunan Gunung Jati pun akhirnya menikahi Ong Tien. Sayang, Ong Tien meninggal pada usia yang masih sangat muda, 23 tahun dan dimakamkan di dekat makam Sunan Gunung Nabi MuhammadDikisahkan dari Channel Youtube Kisah Para Wali, Sunan Gunung Jati pernah bertemu dengan Nabi Muhammad atas petunjuk seekor naga. Kala itu ia yang merupakan putra Raja Mesir sedang sendirian di gedung perpustakaan fokus membaca Kitab Usul Kalam. Melalui bacaannya, ia termotivasi ingin berguru kepada Nabi Muhammad walaupun sejatinya, beliau sudah paham bahwa Rasulullah sudah wafat. Namun, kenyataan itu tak membuat Sunung Gunung Jati menyurutkan tekadnya. Lantas Sunan Gunung Jati meminta izin kepada ibunya. Namun, ibunya menasehatinya untuk mencari ulama lain. Sunan Gunung Jati tetap memaksa dan pamit untuk berangkat pada 5 Jumadil Awal 1466. Sang ibu hanya bisa menangis dan pasrah karena ditinggal putra kesayangannya. Di sebuah hutan, seekor naga besar menghadang perjalanan Sunan Gunung Jati dan bertanya, “Siapa kamu dan mau kemana?” Ia lalu menjawab bahwa dirinya sedang mencari Rasulullah. Sang Naga mengatakan bahwa jika ingin bertemu Nabi, maka berjalanlah ke arah barat menuju Pulau Majeti. Sunan Gunung Jati lalu mengikuti arahan naga, dan berhasil bertemu Nabi Muhammad pada 28 Rajab 1446 Masehi. Dalam perjumpaan itu, Nabi Muhammad menasehati Sunan Gunung Jati agar mematuhi perintah dan larangan Allah dalam Al Quran. Ia pun lalu berterima kasih atas nasehat dan pemberian dari Insan Kamil. Demikianlah beberapa kisah dan karomah dari Syekh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati yang semoga bisa menjadi ibroh bagi kita.* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.
Sunan Kalijaga dan Kisah Punokawan Ilust/Hidayatuna – Pertemuan Sunan Gunung Jati dengan Nabi Khidir terjadi saat Sunan Gunung Jati merasa putus asa. Dalam perjalanan spiritualnya, Sunan Gunung Jati tidak kunjung bertemu Nabi Muhammad Gunung Jati saat itu tengah mempelajari kitab yang membahas watak dan wajah Nabi Muhammad. Kitab tersebut tersimpan di perpustakaan Istana kerajaan sang mempelajari kitab tersebut, Sunan Gunung Jati menjadi pemuda yang aneh. Keinginannya kuat untuk bertemu Nabi Muhammad dan keluarganya sampai mengingatkan kembali bahwa Nabi Muhammad Saw telah lama wafat. Namun Sunan Gunung Jati tetap bersikeras untuk bertemu dengan Rasulullah bertemu dengan Nabi Muhammad Saw. membawanya melakukan pengembaraan spiritual. Sunan Gunung Jati kemudian berkeliling dari satu tempat ke tempat lain di Timur Tengah agar bisa bertemu dengan Nabi spiritualnya telah 100 hari ditempuh. Namun tak juga bertemu Nabi Muhammad tengah perjalanan itulah suatu keanehan terjadi pada Sunan Gunung Jati. Ia diperlihatkan alam nyawa. Dalam alam tersebut ia diperlihatkan oleh Allah SWT. orang-orang yang meninggal di jalan Allah, ia tengah diperlihatkan alam nyawa itulah datang sosok yang gagah dan harum. Seseorang itu datang dengan menaiki Kuda ia mengenalkan dirinya sebagai Nabi Khidir yang akan mengangkat Sunan Gunung Jati sebagai Wali Kutub. Kemudian Sunan Gunung Jati memerintahkannya memakan buah dari tahapan yang harus dilalui Sunan Gunung Jati sebagai Wali Kutub, yakni memakan buah hijau dari surga. Dengan demikian, kini Sunan Gunung Jati resmi diangkat sebagai Wali Khidir datang memberikan dua kabar baik sekaligus. Pertama, ia mengabarkan anugerah kewalian kepada Sunana Gunung Jati. Kedua, ia juga mengabarkan bahwa keinginan Sunan Gunung Jati untuk bertemu Nabi Muhammad Saw akan segera terwujud.
kisah sunan gunung jati dan nabi khidir